transparanlampung.com//Bandar Lampung –-- Terhimpit kondisi fisik dan keterbatasan ekonomi, Suryadi, warga Jalan Tirta, Gang Melati, memilih jalur usaha kecil untuk bertahan hidup. Sejak mengalami saraf terjepit pada 2014,tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat.
Sakit yang menyerang bagian pinggang dan punggung itu membuatnya berhenti dari pekerjaan lamanya. Dengan sisa tabungan yang tidak seberapa, Suryadi berinisiatif membuka warung kelontong kecil di depan rumah.
“Awalnya bingung, karena kerja berat udah nggak kuat. Tapi saya nggak mau nganggur, akhirnya coba buka warung,” ujar Suryadi saat ditemui di warungnya, Rabu (9/7/2025).
Warung milik Suryadi menjual kebutuhan pokok sehari-hari, mulai dari sembako, makanan ringan.Usaha kecil ini dijalankannya perlahan, menyesuaikan dengan kondisi fisik dan keterbatasan modal.
Bermodal kepercayaan dan kedekatan dengan warga sekitar, warungnya mulai mendapat pelanggan tetap. Meski sederhana, usaha ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya selama lebih dari satu dekade terakhir.
“Saya nggak ngoyo, yang penting cukup buat makan dan anak sekolah,” katanya singkat.
Kini, setelah berjalan 11 tahun, warung kecil itu bukan sekadar tempat berjualan, tapi juga simbol perjuangan di tengah kondisi yang tak mudah. Suryadi membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Di balik kerja kerasnya, Suryadi menyimpan satu harapan sederhana: usaha warungnya bisa terus berjalan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menjadi sumber nafkah yang berkah.
Reporter :(Hani )
0 Komentar