transparanlampung.com//Bandar Lampung – Kematian Anwar Hakim di rumah kantor PT Get Map, Perum Nuwo Sriwijaya, Lampung Selatan, masih menyisakan tanda tanya. Ditemukan tak bernyawa dalam kondisi mengenaskan, keluarga menduga kuat adanya kejanggalan yang sengaja diabaikan.
Anwar, yang setahun terakhir menjaga kantor PT Get Map, ditemukan meninggal dunia oleh keluarganya setelah beberapa hari tak memberi kabar. Menurut sang kakak, NP, tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kekerasan.
“Ada bekas hitam seperti kena air keras, ujung jarinya berdarah,” ungkap NP, Kamis (14/8/2025).
Lebih mengejutkan, rekaman CCTV lima hari sebelum dan saat kejadian hilang. Sikap dingin pihak perusahaan serta respons aparat juga menjadi sorotan keluarga.
“FJ selaku manajer PT Get Map dan M pemilik rumah hanya berdiri melihat, tanpa empati,” tambah NP.
Otopsi luar yang dilakukan RS Bhayangkara menunjukkan empat indikasi kekerasan: rahang patah, luka sayatan, bekas cairan kimia, dan luka lain. Namun, otopsi dalam yang belakangan dilakukan justru disebut tertutup dan tidak transparan.
NP mengaku sempat diminta tanda tangan surat tanpa boleh membacanya. Bahkan hasil otopsi tertulis tidak mencantumkan nama korban, disebut karena alasan ‘kerahasiaan’.
Upaya pelaporan ke Polsek Natar pun tak berjalan mulus.
“Saya malah disuruh pulang karena katanya bukan pembunuhan. Tapi kami tetap lanjutkan laporan,” ujar NP.
Keluarga menilai tidak ada satu pun pihak PT Get Map yang diperiksa dalam proses penyelidikan. Mereka menduga kuat Anwar dibunuh dan menuntut keadilan, termasuk transparansi dari pihak kepolisian.
“Kami minta kasus ini dibuka terang. Polisi harusnya melindungi, bukan menghalangi,” tegas NP.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak Polda Lampung belum memberikan tanggapan resmi.
(*)

0 Komentar