Relawan Dapur MBG Karang Anyar 2 Diporsir Kerja Berjam-jam Tanpa Lembur, Vitamin Nihil, Minyak Goreng Dibatasi

transparanlampung.com///Lampung Selatan – Dugaan pelanggaran prinsip dasar ketenagakerjaan mencuat di balik operasional MBG Karang Anyar 2, jalan Brawijaya II Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. Sejumlah relawan dapur mengaku diporsir bekerja melebihi jam kerja wajar tanpa pembayaran lembur, minim perhatian kesehatan, serta dibebani pembatasan bahan pokok dapur, khususnya minyak goreng.


Para relawan menyebut aktivitas memasak dimulai sejak pagi hari dan kerap berakhir di luar jam kerja normal. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan kompensasi jam lembur, meski pekerjaan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.


“Kami kerja lebih dari jam normal, tapi tidak pernah ada pembayaran lembur,” ujar salah satu relawan.


Di tengah beban kerja tersebut, para relawan juga mengaku tidak pernah diberikan vitamin atau suplemen kesehatan, padahal aktivitas dapur menuntut stamina tinggi dan ketahanan fisik.


Masalah lain yang turut dikeluhkan adalah pembatasan minyak goreng bagi petugas masak, yang dinilai menyulitkan proses memasak dan menambah tekanan kerja.


“Minyak goreng dibatasi, sementara kebutuhan memasak besar,” ungkap relawan lainnya.


Selain itu, relawan juga mengungkap adanya tekanan psikologis berupa pernyataan dari pihak perusahaan yang menyebutkan bahwa jika relawan menuntut hak atau melakukan mogok kerja, maka seluruh relawan akan diganti dengan relawan dapur yang baru.


Saat dikonfirmasi,Alam Selaku  koordinator lapangan relawan dapur kamis.(5/22026) membenarkan adanya persoalan tersebut, namun menyebut telah dibahas dalam rapat internal.


“Kejadian itu benar, tapi sudah kami rapatkan dan sudah clear,” ujarnya.


Pernyataan serupa disampaikan oleh Sri Wahyuni, yang mengatakan bahwa rapat telah dilakukan dan diharapkan ada perbaikan ke depan.


Di sisi lain, sorotan tajam datang dari Ketua Lembaga Perempuan Peduli Pendidikan (P3) Provinsi Lampung Ia menyayangkan kondisi yang terjadi di dapur MBG tersebut.


“Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Para juru masak seharusnya sehat lahir dan batin, bahagia, serta bekerja tanpa tekanan. Kegiatan di dapur bergizi ini harus bebas dari masalah. Suasana dapur harus nyaman, aman, bersih, wajib bahagia, kompak, solid, dan jangan sampai para juru masak terbebani atau stres,” tegasnya, Rabu (5/2).


Ia menilai, jika dapur bergizi justru menjadi sumber tekanan, maka esensi program sosial tersebut patut dipertanyakan dan harus segera dievaluasi secara menyeluruh.


Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan terbuka mengenai langkah konkret perbaikan, khususnya terkait:

pembayaran jam lembur,

pengaturan jam kerja yang manusiawi,

pemberian vitamin dan perlindungan kesehatan,

serta pemenuhan bahan pokok dapur tanpa pembatasan berlebihan.


Publik berharap pengelola MBG Karang Anyar 2 segera melakukan evaluasi serius agar program sosial tidak justru menyisakan persoalan kesejahteraan dan kemanusiaan bagi para relawan di lapangan.


Tim

0 Komentar