SMPN Satu Atap Tiga Gedung Wani Jati Agung Buat Siswa Trauma

transparanlampung.com///Lampung Selatan--- Peristiwa dugaan pemotongan rambut oleh oknum guru terjadi di SMP Negeri Satu Atap 3 Desa Gedung Wani 1 Karang Rejo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.


Dimas Prasetiawan (NIK 0109905812), salah satu peserta didik di sekolah tersebut, dikabarkan mengalami trauma dan enggan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) setelah kejadian yang diduga dilakukan oleh oknum guru berinisial AS beberapa waktu lalu.Akibat peristiwa tersebut, Dimas tidak lagi aktif mengikuti kegiatan di sekolah.


Dalam kondisi itu, Dimas diketahui menerima bantuan sekolah sebesar Rp750.000. Namun, saat hendak mengambil bantuan tersebut, pihak keluarga diminta untuk melampirkan surat pengantar dari pihak sekolah Namun Dimas tidak mendapatkan surat pengantar dengan alasan dari pihak sekolah iya bukan siswa SMP tersebut.

Saat wartawan dari Media TransparanLampung.com dan Edukasi Nusantara Post menyambangi sekolah guna melakukan konfirmasi,kesekolah tersebut Kamis (12/2/2026)


Salah seorang guru berinisial HD menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan dibicarakan terlebih dahulu karena kepala sekolah sedang tidak berada di tempat.


“Saya bicarakan terlebih dahulu, karena kepala sekolah tidak ada. Nama-nama yang disebut juga tidak ada di sini. Coba telepon saja media Lampung Barometer, dia tahu saya. Saya juga wartawan, Pak,” ujar HD saat ditemui di ruang tamu sekolah.


HD juga mempertanyakan kepemilikan media TransparanLampung.com kepada wartawan yang hadir.


Ia menambahkan, apabila kejadian tersebut diberitakan, maka pihak Dimas juga diminta untuk menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah melalui media.


Di sisi lain, orang tua Dimas, Rubiah, menyayangkan kejadian yang menimpa anaknya. Ia menegaskan bahwa dirinya menyekolahkan anak untuk dididik dengan baik, bukan untuk mendapatkan perlakuan yang membuat trauma.


“Saya menyekolahkan anak untuk dididik. Dengan kejadian ini, anak saya menjadi trauma. Saya hanya memohon kepada pihak sekolah agar memberikan surat pengantar untuk pengambilan bantuan tersebut,” ujar Rubiah.


Hingga berita ini diturunkan, pihak kepala sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut.


(Tim)

0 Komentar